Rabu, 31 Oktober 2018

Membangun Karakter Siswa di Era Millenial

Pada era millenial ini mungkin kita semua mulai merasakan banyaknya kemerosotan dalam karakter siswa di zaman now ini, oleh karena itu si penulis membahas tentang Membangun Karakter Siswa di Era Millenial. Gunawan, H.(2012) menyebutkan bahwa karakter tidak bisa diwariskan, karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah suatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari. Hal ini pula menjadi pemahaman kita bahwa karakter diri kita adalah tanggung jawab diri sendiri. Kita tidak boleh menyalahkan orang lain atas karakter buruk maupun karakter baik kita. Karakter menjadi hal yang di kontrol penuh bagi masing-masing dari kita. Dan mengembangkan karakter menjadi tanggung jawab masing-masing dari kita, oleh karena itu maka pembentukan karakter harus sedini mungkin di tanamkan kepada anak-anak. Hal ini bertujuan untuk menjaga anak-anak millennial agar lebih bijak dan lebih terarah dalam memanfaatkan teknologi yang semakin maju dan semakin bahaya jika tidak di kontrol.
Siswa-siswi di era millennial ini harus bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi karena teknologi di era millennial ini ibaratkan pisau yang sangat tajam, apabila pisau digunakan untuk hal-hal yang baik maka menjadi baik dan apabila pisau digunakan untuk hal-hal yang buruk maka menjadi buruk. Begitu pula teknologi, juga harus dikelola dengan baik, jangan sampai dengan adanya kemajuan teknologi menjadikan kemerosotan karakter siswa di era ini.
Di era millennial ini, dukungan / support dari guru dan orang tua sangat pengaruh dalam membangun karakter siswa. Karena tanpa adanya dukungan dari guru dan orang tua maka sulit bagi siswa-siwi untuk membangun karakter yang baik di era millennial ini. Menurut Gunawan, H.(2012) kunci dari pendidikan karakter adalah disiplin, komitmen dan penerapan.
Di kitab alala diterangkan yg artinya : ingatlah, kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan 6 syarat : cerdas,semangat,sabar,biaya/bekal,petunjuk guru dan lama watunya.
Sedikit saya jelaskan tentang itu;
1. Cerdas artinya kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi, walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka berarti sudah memenuhi syarat yang pertama ini, berbeda dengan orang gila atau orang yang idiot yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu maka sulitlah meraka untuk mendapatkan ilmu.
2. Semanagt artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa, oleh karenanya banyak orang yang mencari ilmu tapi yang berhasil sangat sedikit disbanding yang tidak berhasil, kenapa ?..karena mencari ilmu itu sulit, apa yang kemaren dihafalkan belum tentu sekarang masih bisa hafal, padahal apa yang dihafalkan kemaren itu masih berhubungan dengan pelajaran hari ini, akhirnya pelajaran hari inipun berantakan karena hilangnya pelajaran kemaren, maka tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.
3. Sabar artinya tabah menghadapi cobaan dan ujuan dalam mencari ilmu, orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju penciptanya, oleh karena itu syetan sangat membenci pada meraka, apa yang di kehendaki syetan adalah agar tidak ada orang yang mencari ilmu.
 4. Biaya artinya orang yang mencari ilmu perlu biaya seperti juga setiap manusia hidup memerlukanya, tapi jangan di faham harus punya uang yang banyak, biaya disini hanya kebutuhan kita makan minum sandang dan papan secukupnya,pun tidak harusmerupakan  bekal materi.
5.Petunjuk guru artinya orang yang mencari ilmu harus digurukan tidak boleh dengan belajar sendiri,  dalam sebuah maqolah [kata-kata ulama’ dikatakan] “barang siapa belajar tanpa guru maka gurunya adalah syetan”.  Oleh karena itu petunjuk guru itu sangat dibutuhkan bagi semua siswa-siswi.
6. Lama waktunya artinya orang belajar perlu waktu yang lama, lama disini bukan berarti tanpa target, sebab orang belajar harus punya target, tanpa target akan hampa dan malaslah belajar.
Mungkin sedikit apa yang di jelaskan penulis diatas bisa membantu untuk membangun karakter siswa di era millennial ini. Dan Pendidikan memanglah suatu hal yang vital adanya telah menjadikan kewajiban bagi setiap orang untuk memenuhinya. Baik pendidikan formal maupun prndidikan non formal sama sama mempunyai yang besar dalam perkembangan suatu bangsa.
Di Indonesia sendiri, fenomena seputar dunia pendidikan menjadi hal yang sangat eksis dalam beberapa tahun terakhir ini. Fakta fakta yang ada menunjukan adanya perubahan yang sangat menonjol antara pendidikan yang terjadi pada zama dahulu atau zaman old, dengan pendidikan yang ada sekarang ini. Yaitu zaman now.
Kira kira apa penyebabnya..? Apakah degradasi moral juga berpengaruh pada perubahan system pendidikan..? Atau pola kehidupan masyarakat kita yang sudah bergeser ke era modernisasi..?
Dibawah ini terdapat perbedaan antara pendidikan zaman old dengan zaman now.
Orientasi pembelajaran
Pada zaman dahulu pendidikan berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak baik pada siswa melalui pembelajaran pembelajaran yang dibiasakan dalam kegiatan sehari hari, sebagaimana yang dicontohkan oleh guru. Sedangkan zaman now, pendidikan berorientasi pada nilai akhir yang diperoleh melalui rangkaian ujian dan tugas.padahal, di era ini generasi milenial sangatlah membutuhkan pembelajaran karakter yang baik agar tidak tergerus dalam derasnya arus globalisasi.
Metode belajar
Para guru pada zaman  dulu dalam menyampaikan materi dengan cara langsung dijelaskan pada siswa, dan siswa menjadi penyimak apa yang dijelaskan oleh guru tersebut. Pembelajaran yang dilakukan pun sebatas apa yang disampaikan oleh guru. Siswa pada zaman dahulu lebih cendrung menurut pada apa yang disamapaikan oleh seorang guru. Berkebalikan dengan hal tersebut, siswa zaman now dituntut lebih aktif dalam proses kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 / K13 memberi ruang gerak yang bebas pada siswa untuk mencari informasi sebanyak mungkin, tanpa terbatasi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru.
Media belajar
Media pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan zaman old terbilang masih sangat terbatas, hanya tergantung pada benda benda yang ada disekitar dan dilakukan dengan cara tradisional, seperti menggambar dan ilustrasi pergerakan. Sedangkan pada zaman now media pembelajaran sangatlah bervariasi. Dimulai dengan adanya teknologi teknologi canggih yang terhubung dengan internet, serta berbagai media pembelajaran konkret  modern yang mudah diterima dan difahami oleh siswa.
Sumber informasi pembelajaran
Buku adalah hal yang wajib yang harus dimiliki setiap pelajar. Mulai dari zaman dahulu sampai dengan zaman sekarang buku tetaplah menjadi sumber informasi terbaik. Akan tetapi pada zaman dahulu informasi yang disampaikan masih terhitung sangat lambat. Orang orang masih kesulitan dalam memperoleh informasi. Sedangkan era sekarang ini informasi tidak hanya terbatas buku saja, melainkan juga dari sumber sumber lain yang dapat diakses dalam internet, sehingga siswa tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan seorang guru saja. Informasi informasi mengenai ilmu pengetahuan pun juga tersebar sangat cepat.
Apa yang terjadi pada pendidikan zaman dahulu dan sekarang adalah perkembangan dan tuntutan zaman. Pendidikan era mana yang lebih baik tentunya bergantung pada prespektif masing masing. Setiap hal pasti mempunyai sisi buruk dan sisi baik yang bebeda. Hal ini hanya mengenai bagaimana cara untuk  meminimalisir kekurangan pendidikan pada zaman now / zaman milenial dan memperbaikinya dengan hal hal yang positif sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pendidikan Indonesia.

Rabu, 11 April 2018

Imam syafi'i

Biografi imam syafi'i

Imam syafi'i dilahirkan di Gaza pada tahun 150 H . Kemudian migrasi ke kota makkah saat berumur 2 tahun dan tumbuh di sana, beliau hafal al qur'an saat berumur 7 tahun, hafal kitab muwatha' Karangan imam malik saat berumur 10 tahun, dan beliau di berkenankan berfatwa saat berumur 15btahun. Beliau mendalami ilmu fiqih pada imam muslim ibn khalid, seorang mufti di kora makkah, kemudian beliau ke kora madinnah berguru kepada imam malik dan menetap disana selama beberapa waktu.
Kemudian beliau ke kota baghdad pada tahun 195 H. Dan menetap selama 2 tahun, disana para ulama' kota baghdad berkumpul pada beliau dan mayoritas dari mereka berpindah madzhab beliau dan beliau mengarang kitab Qoul Qadim.

Kalam

باب الكلام
Kalam menurut ulama' ahli nuhat (ahli nawu) ada lafadz yang berfaedah yg tersusun dan bil wadh'i.
Sedangkan kalau menurut imam ibnu malik al andalusy (pengarang alfiyah ibnu malik) yaitu sebagaimana dalam karanganya nadhoman al fiyah di bab kalam 
 كلامنا لفظ مفيد كااسقم 
Yang artinya kalam adalah lafadh yg berfaedah sebagaimana berfaedahnya lafad استقم.
 Tp yg di kehendaki imam ibnu malik itu gak jauh bedah dengan yg telah di definisikan oleh ulama' ahli nahwu cuman kalau di al fiyah ibnu malik lebih ringkas dari pada yang di definisikan oleh ulama' ahli nahwu .
Mari kita teliti lafadz استقم ,  Pada lafad tersebut itu sudah di namakan kalam karena sudah berfaedah karena sudah bisa difahami dan juga sudah tersusun. Karena pada lafad استقم itu fiil amar yg menyimpan dhommir mustatir wujub   (menyimpan dhommirاستقم اى انت) . Adapun dhommir mustatir wujub itu dhommir yg wajib disimpan.
Waallahu a'alam bis showab.